Thinking and Talking about Arts and Culture in Southeast Asia

“Salt”: Perjalanan Tubuh Eko Supriyanto

Views: 167

By Michael HB Raditya

(1112 words, 10-minute read)

Read this review in English. Baca review ini dalam Bahasa Inggeris.

Lima tahun belakangan, Eko Supriyanto, seorang koreografer terbaik yang dipunya Indonesia, telah menyita perhatian publik baik domestik ataupun mancanegara. Kerja koreografi yang dilakukannya melibatkan riset mendalam pada sebuah tempat dengan locus yang berbeda dari kebiasaan serta kebudayaannya. Jailolo, sebuah daerah di Halmahera Barat, Maluku Utara, Indonesia menjadi ruang baru bagi Eko dalam mengeksplorasi kekayaan tubuhnya, juga tari Indonesia.

Dua karya sebelumnya Cry Jailolo dan Bala-Bala merupakan dua karya tari yang berasal dari akumulasi pengalaman serta perbendaharaan tubuh masyarakat Jailolo. Dengan riset yang merujuk pada Practice Art Research—dalam hal ini saya menautkannya pada metode etnografi—Eko hidup menjalani hidup bersama masyarakat. Dua karya sebelumnya lantas terinspirasi dari tari setempat, yakni Legu Sagai, Soya-Soya, Cakalele, serta keadaan masyarakat sekitar. Hal yang menarik Eko tidak mencerabut tari tersebut dari akarnya, melainkan menghadirkan Jailolo secara utuh, yakni dengan mengajak pemuda-pemudi setempat menjadi penari di dua karya sebelumnya.

Alih-alih serupa, karya bertajuk Salt ini menghadirkan perjalanan tubuh tari Eko Supriyanto. Di mana, Eko menghadirkan saling sengkarut tubuh dengan basis kepenarian atau pendisiplinan tubuh yang berbeda-beda, seperti tari Jawa yang lebih erat dengan agraris, sedangkan tari Jailolo yang lebih erat dengan maritim. Pertautan antara tubuh dan konstruksi ini yang dihadirkan Eko di karya terakhir pada Trilogy of Dancing Jailolo tersebut. Karya yang dihelat pada Minggu (12 November) di Komunitas Salihara, Jakarta, Indonesia ini merupakan kali pertama dipentaskan di Asia, setelah sebelumnya ditampikan di deSingel Internationale Kunstcampus, Antwerp (Belgia), Kaaitheatre Brussel (Belgia), dan Dance House, Melbourne (Australia).

Mengurai Tubuh Penari

Eko Supriyanto—atau yang dikenal dengan Eko Pece—menghadirkan saling-silang tubuh tarinya dalam pertunjukan berdurasi 60 menit. Berbeda dengan dua karya sebelumnya, Eko menari karya tersebut secara tunggal. Hal ini memang tepat, pasalnya yang memahami sejarah tubuh Eko hanyalah dirinya sendiri. Bertolak dari hal tersebut, karya ini memang dapat ditempatkan sebagai auto-biografi Eko Supriyanto.

Namun apa pentingnya mengetahui sejarah tubuh Eko Supriyanto? Toh, semua penari mempunyai hal serupa, yakni mengalami pendisiplinan tubuh yang beragam jika mempelajari sebuah tarian. Secara otomatis, perbendaharaan tubuh tari memang niscaya tinggal dan tumbuh pada tubuh para penari. Kendati demikian, hal tersebut bukanlah hal yang baru. Atas dasar tersebut, karya Salt dapat ditempatkan sebagai upaya dalam memahami negosiasi atas konstruksi tubuh seorang koreografer. Akumulasi pengalaman gerak dan pelbagai pilihan atas tari tertentu menjadi tinubuh pada seorang koreografer.

Lantas Eko memulainya serupa dengan perjalanan kepenariannya. Di mana Eko memulai dengan mempelajari tari Jawa, yakni tari klasik. Tidak hanya tari klasik, Eko turut mempelajari tari rakyat, Jathilan. Alih-alih hanya bermuara pada tari Jawa, pengalaman Eko atas tari Jailolo turut ia hadirkan. Alhasil perbendaharaan tubuh atas tiga tarian tersebut yang secara berurutan dan bergantian dipertunjukkan olehnya.

Eko memulai pertunjukan dengan perlahan membelakangi penonton. Berdiri di bagian belakang dengan cahaya yang teram-temaram, Eko memilih ketelanjangan sebagai fase awal tubuhnya. Eko mulai bergerak dengan menggeliat secara perlahan, memberikan impresi tubuh yang netral atas pendisplinan tubuh tertentu. Setelahnya dengan tata cahaya yang lebih redup, Eko lenyap dalam kegelapan.

Tidak lama berselang, ia kembali dengan sebuah kain berwarna putih dengan beberapa permukaan tembus pandang yang menutupi kakinya. Dengan cahaya redup, Eko yang berdiri di tengah panggung mulai menampilkan kosa-gerak tari klasik. Fase ini adalah fase pertemuan tubuh Eko dengan tari klasik Jawa.

Fase tersebut kembali berkembang, setelahnya Eko turut menghadirkan kosa-gerak Jathilan, bahkan hingga titik trance. Perbedaan ini cukup mudah dirasakan, pasalnya kosa gerak yang kontras antara keduanya, di mana tari klasik menampilkan eksplorasi tangan dengan kuda-kuda kaki yang tegas bersanding dengan gerak Jathilan yang lebih kuat pada hentakan kaki serta lompatan. Dikotomi tersebut semakin kuat dengan perbedaan tata suara, di mana iringan tari klasik didominasi dengan suara gamelan, sedangkan jathilan didominasi alunan dengan suara krincing yang lazimnya digunakan di kaki penari Jathilan. Terlebih Eko menggunakan serbuk, laiknya bedak yang memproduksi kabut setiap ia melangkah.

Setelah eksplorasi kosa-gerak tari klasik bersanding dengan tari Jathilan, Eko meninggalkan panggung dengan tata cahaya panggung terlihat memerah. Beberapa saat berselang, Eko kembali muncul dengan balutan kain berwarna hitam yang lebih minim. Fase ini adalah fase di mana Eko bertemu dengan kebudayaan Jailolo. Suara berderap mulai terdengar samar-samar, Eko mulai menderapkan kaki juga mengayunkan tangannya lebih bebas dan lepas.

Beberapa kosa-gerak laiknya tarian perang turut ditunjukkan olehnya. Mengingat tari Jailolo lebih banyak didominasi pada tari perang atau tari perayaan. Selain itu, gerakan merentangkan tangan sambil berputar turut mendominasi pada gerak di fase ini. Jika penonton mempunyai pengalaman dua repertoar lainnya dari Trilogy of Dancing Jailolo, maka beberapa gerak yang dihadirkan Eko tidaklah asing.

Dibandingkan dengan dua basis tari sebelumnya, perbedaan tidak hanya terletak pada karakteristik gerak, namun turut terlihat pada pola gerak dan pola lantai yang diciptakan. Impresi pada fase terakhir ini mengantarkan Eko pada satu kebebasan pada tubuh tari kontemporernya. Tubuh yang mengalami pertemuan dengan konstruksi yang terjalin di luar kebiasaannya. Tubuh asing dengan konstruksi yang terjalin pada satu lanskap yang berbeda, yakni agrikultur ke aquakultur. Di akhir pertunjukan, Eko mulai berjalan ke arah belakang panggung secara perlahan ditemani cahaya yang perlahan meredup, tanda tubuhnya kembali memulai perjalanan.

Yang Terlihat dan Sebaliknya

Sebenarnya ada pelbagai cara untuk mengurai tubuh tari pada penari, salah satunya adalah mengurai akumulasi tubuh dengan kosa-gerak yang telah ‘menyatu’. Artikulasi saling-sengkarut tersebut berupa beragam tubuh tari yang dipunya oleh penari. Di karya ini, Eko menghadirkan perbendaharaan tubuhnya secara terpisah, antara tari klasik Jawa, tari jathilan, ataupun tarian Jailolo.

Pemilihan perwujudan yang terpisah pun membantu penonton untuk memahami pertunjukan dengan lebih mudah. Terlebih pemisahan tersebut merupakan satu refleksi dari kesadaran tubuh Eko dengan beragam pertemuan konstruksi budaya dan ekologi yang berbeda-beda. Semisal tari klasik dan tari Jathilan—tari Jawa—yang merepresentasikan lanskap agraris, sedangkan tarian Jailolo lebih merepresentasikan lanskap maritim. Kiranya hal ini dapat terserap hanya melalui tubuh.

Secara inderawi, tubuh menjadi ruang dialog atau negosiasi antar konstruksi budaya yang diterima oleh individu. Dalam hal ini, tubuh adalah medium utama dalam merasakan persilangan kebudayaan. Hal inilah yang ingin diwujudkan oleh Eko di dalam karyanya, yakni tidak hanya menunjukkan soal kedirian karir kekoreografian Eko kini, melainkan menjadi kesadaran kritis atas tubuh penari dengan pelbagai kultur dan pendisiplinan yang diterima. Daya kritis koreografi merupakan hal utama dalam menciptakan tari kontemporer.

Bertolak dari itu semua, karya ini setidaknya telah menjawab pertanyaan tentang biografi tubuh tari seorang koreografer. Eko dengan cakap mengartikulasikan basis tubuhnya dengan menguraikannya, namun kiranya juga menarik melihat perbendaharaan tubuh dan negosiasi budaya pada kora-gerak yang terlanjur bercampur.


This review is based on the performance on the 12th November 2017 at Salihara Community, Jakarta, Indonesia. Read this review in English.

Michael HB Raditya is a researcher, critic, writer who lives in Yogyakarta, Indonesia. He graduated from Universitas Gadjah Mada, Indonesia, with a major Anthropology (Bachelor), and Performing Arts and Visual Arts Studies (Master) and is an editor for Journal Kajian Seni and many Indonesian books—i.e. Life for Dance (2016); The Power of Art (2017); etc.

Comments: 1

Your email address will not be published. Required fields are marked with *