Thinking and Talking about Arts and Culture in Southeast Asia

“Hijrah”: Tubuh di Antara dan Migrasi Gender

Views: 341

By Michael HB Raditya

(1000 words, five-minute read)

Read this review in English. Baca review ini dalam Bahasa Inggeris.

 

Sejak kemunculannya, Rianto Manali (37) telah mencuri perhatian publik dengan tari yang ia pertunjukkan. Adalah Lengger Lanang, salah satu jenis tari dari Banyumas yang mempertunjukkan praktik cross-gender—laki-laki yang menarikan tarian perempuan—ia pilih  sebagai media ungkap dalam menyampaikan interpretasinya terkait tubuh, jenis kelamin, dan konstruksi. Alih-alih hanya pilihan jenis tarinya yang ‘berbeda’, Rianto turut mempunyai kualitas kepenarian yang baik, tercatat bahwa ia pernah menjadi penari 24 jam di International Dance Day di Solo, Indonesia beberapa tahun lalu, bahkan belakangan ini ia juga menjadi salah satu penari di Akram Khan Company, Inggris. Dua karya Rianto sebelumnya yang menyita perhatian adalah Soft Machine—solo work under the direction of Choy Ka Fai—dan Medium[i] yang dipertunjukkan pada tahun 2016. Medium akan dipresentasikan di Esplanade da: ns festival 2018 di Singapura. Pada tahun 2018 ini, ia mempresentasikan karya work in progress-nya bertajuk, Hijrah di Yogyakarta, Indonesia.

Dengan wajah genit, Rianto menari dengan gemulai diiringi tembang yang dilantunkan oleh Cahwati. Sementara alunan berganti menjadi berderap, seketika Rianto menarikan gerakan sebaliknya, gagah. Sangat kontras dengan gerak sebelumnya. Dalam hal ini, Rianto mewujudkan dua gender sekaligus di dalam tubuhnya, laki-laki dan perempuan. Alih-alih dihadirkan berlawanan, Rianto justru mendialogkan keduanya di dalam sebuah tari kontemporer bertajuk Hijrah.

Hijrah merupakan karya work in progress dari Rianto yang membicarakan persoalan migrasi gender. Karya ini dipertunjukkan pada tanggal May 25, 2018 di ArtJog[ii], Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia, dengan melibatkan Cahwati—pada vokal dan kenong—serta Waluyo—pada vokal dan perkusi. Berbeda dengan dua karya sebelumnya, Soft Machine dan Medium, Rianto tidak hanya menyoal persilangan namun perpindahan gender dengan lebih artikulatif dan subtil. Karya ini menjadi dialog tubuh antar laki-laki dan perempuan yang beririsan satu sama lain.

Dalam sesi tanya jawab, Riyanto menjelaskan bahwa karya Hijrah ini merupakan kombinasi dari karya Medium dan interpretasinya soal gender. Rianto ingin menggambarkan kegelisahan mengenai “conception of the journey of a male Lengger body beyond the boundary of gender, space, and time.”

 

Hijrah
Photo: Sapto Agus

 

Perjalanan Migrasi Tubuh

Terdapat dua bagian signifikan di dalam Hijrah yang dapat dibaca sebagai perjalanan tubuh yang berpindah. Pada setengah pertunjukan bagian awal, pelbagai gerak dari karya sebelumnya, Medium, dapat dikenali. Alih-alih ditampilkan serupa, pada karya Hijrah, sari atau inti gerak dari karya Medium menjadi bahan eksplorasi lebih lanjut.

Pertunjukan diawali dengan cahaya teram temaram dan tembang yang dilantunkan Cahwati, sementara Rianto yang berbusana hitam tengah tertelungkup di tengah panggung. Setelahnya ia mulai berlari di tempat, maju dan mundur, hingga lari ke pelbagai arah dengan tatapan kosong. Dalam hal ini, Rianto memiliki pola lantai yang menarik, di mana eksplorasi jangkauan panggung tidak didasarkan pada hitungan, melainkan telah berkelindan dengan gagasan yang ingin ia tekankan.

Selanjutnya terdengar bunyi berderap beduk yang dipukul Waluyo secara statis, Rianto mulai merentangkan tangannya menengadah yang berakhir dengan gerak tangan Lengger. Ia melenggak-lenggokkan pinggulnya ke kiri dan kanan, sementara pundaknya turut mengikuti perlahan. Gerak tangan Lengger pun turut ia wujudkan, namun dengan pelbagai eksplorasi yang kreatif, semisal ketika Rianto menatap tangannya dengan asing yang terus bergerak acak, atau tangan Lengger yang memukul ke wajahnya. Suasana asing tersebut didukung dengan pelbagai suara aneh, seperti bunyi hewan tokek, hingga noise dari mulut. Dari eksplorasi posisi tangan lantas menjalar ke pelbagai gerak tubuhnya. Dalam hal ini, Rianto menampikan kosa-gerak, eksplorasi gerak, dan gestur tubuh yang cakap.

Sementara itu Cahwati melantunkan beberapa lirik, seperti “Awas-Awas//Ayune//cantik pol” atau “Awas-awas//cantiknya//cantik banget”, dan Rianto bergerak semakin centil dengan senyum malu-malu terurai di wajahnya. Dari praktik ini, Rianto menjadikan tubuhnya sebagai ruang dialog antar gender, yakni menjadi laki-laki, perempuan, serta ambivalen.

Sedangkan pada setengah pertunjukan bagian akhir, merupakan interpretasi Rianto atas migrasi tubuh, berserta konstruksinya. Di mana Rianto membawa tubuhnya sebagai ruang eksplisit atas dialog laki-laki dan perempuan. Pada bagian ini, Rianto turut menautkan pelbagai artistik dalam mengartikulasikan konstruksi gender.

Rianto perlahan berjalan ke area depan panggung dengan wajah nanar. Ia melangkah ke bawah panggung pertunjukan, di mana terdapat sebuah panggung kecil dengan alas berwarna merah, kuning, hijau, dan biru. Kemudian ia berdiri di tengah panggung tersebut, sementara seorang perempuan terus menggerutu dan laki-laki berkilah, berdiri di sisi kanan dan kirinya. Laiknya tengah bertengkar, mereka saling beradu mulut hingga melempar bedak. Namun yang menarik, lemparan bedak berwarna tersebut dilemparkan ke tubuh Rianto. Setelah pertengkaran itu berakhir, Rianto mengucap “Lanang Wadon Jadi Siji” atau “Laki-laki perempuan menjadi satu”. Bedak berwarna yang dilemparkan ke tubuhnya dapat dimaknai sebagai konstruksi yang melekat pada kedua gender. Dalam hal ini tubuh Rianto mengakomodasi dialog—negosiasi atau kontestasi konstruksi—antar laki-laki dan perempuan.

Setelahnya ia menunduk dengan kepala menjadi tumpuan. Beberapa kali ia membantingkan tubuhnya ke pelbagai arah sambil memejamkan mata dengan tumpuan yang sama, kepala atau badannya. Impresi kesakitan dan pengorbanan terwujud di bagian ini. Ia mengambil bedak-bedak tersebut dan ditebarkan ke arah atas tubuhnya. Selanjutnya ia kembali menarikan Lengger dengan luwes dan nyaman ke arah belakang panggung pertunjukan. Di tengah panggung ia menyilangkan tangannya di punggungnya, dan mengucap “Kulo kelingan marah” atau “Saya teringat marah” sembari lampu panggung padam. Pada bagian ini, tubuh Rianto mewujudkan ruang negosiasi dan kontestasi dalam perjalanan migrasi gender tersebut.

 

Photo: Sapto Agus

 

Lengger Sebagai Gugusan Narasi Gender

Ketekunan Rianto dalam menari Lengger membuahkan banyak hal, di antaranya kepenarian, pengalaman tubuh, dan isu terkait gender yang embodied. Rianto menciptakan karya Hijrah sebagai ruang perwujudan atas perjalanan tubuh yang bermigrasi. Dalam hal ini, Hijrah mengartikulasikan perjalanan tubuh namun tidak hanya menyoal tubuh yang berbeda secara jenis kelamin, melainkan soal konstruksi yang mengikat.

Menurut hemat saya, pertunjukan ini telah memberikan tidak hanya kecakapan koreografi, namun turut memberikan pemaknaan atas gender dengan kritis. Namun kiranya penggunaan panggung berwarna-warni terlalu ramai dan mencolok mata, terlebih telah digunakannya bedak berwarna. Alangkah eloknya jika panggung tersebut satu warna—semisal putih atau hitam—, di mana hal tersebut dimaknai sebagai ruang refleksi. Terlepas dari itu semua, kiranya Hijrah telah mencapai kualitas yang tinggi sebagai karya Work in Progress.

Selain itu, salah satu hal mengapa karya ini menarik karena Rianto menarikan Lengger tanpa menampilkan atribut visual dari tarian tersebut. Namun yang cukup mengagetkan, pertunjukannya tetap berkonotasi Lengger. Di sini tari Lengger telah termanifestasikan pada tubuhnya. Suatu pencapaian yang luar biasa. Bertolak dari itu semua, Rianto merupakan salah satu koreografer tari kontemporer terbaik asal Indonesia yang dapat menyoal isu terkini dengan nafas tradisi.

[i]Rianto akan tampil Medium dari da:ns festival 2018 pada 16 – 17 Oktober di Esplanade Theatre Studio. Dia juga tampil di Akhram Khan Company, Until The Lions yang dipentaskan di Teater Esplanade pada 9 – 10 Oktober, juga bagian dari da:ns festival.

[ii] ArtJog merupakan pameran seni rupa kontemporer di Yogyakarta. Artjog telah menggelar pameran yang kesebelas kali di tahun 2018. Dimulai tahun 2017, ArtJog tidak hanya menampilkan karya seni rupa, namun turut menggelar seni pertunjukan di setiap malam perhelatannya.


Guest Contributor Michael HB Raditya is a researcher, critic, writer who lives in Yogyakarta, Indonesia. He graduated from Universitas Gadjah Mada, Indonesia, with a major Anthropology (Bachelor), and Performing Arts and Visual Arts Studies (Master) and is an editor for Journal Kajian Seni and many Indonesian books—i.e. Life for Dance (2016); The Power of Art (2017); etc.

(Visited 12 times today)
Comments: 1

Your email address will not be published. Required fields are marked with *